El Niño : Pengertian dan dampak terhadap iklim di Indonesia

Pernahkah Anda memperhatikan orang-orang membicarakan cuaca lebih dari biasanya akhir-akhir ini? Di Indonesia dan sebagian besar wilayah Asia Tenggara, banyak orang tampaknya menikmati suhu hangat yang luar biasa sepanjang tahun, karena pola iklim di Pasifik bergeser dari La Niña ke El Niño.

Panas terik yang menyelimuti wilayah khatulistiwa, termasuk Indonesia, memberikan gambaran nyata dampak perubahan iklim. Situasi di lapangan sangat suram, jutaan warga merasakan gelombang panas El Niño. Menurut data BMKG , suhu rata-rata di Indonesia biasanya berkisar pada 26,6 derajat Celcius. Namun, catatan terbaru menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan, dengan suhu rata-rata 27 derajat Celsius dan suhu maksimum mencapai 38,7 derajat.

Dalam artikel ini, kami mencoba menyelami penyebab merajalelanya gelombang panas dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat di Indonesia.

Apa itu Fenomena El Niño?

Pertanyaan serius mengenai musim kemarau berkepanjangan membuka dialog kami dengan Pak Yuli. Sebagai dosen Meteorologi dan Klimatologi, ia menjelaskan, cuaca panas dan kering di Indonesia biasanya terjadi pada musim kemarau saat curah hujan menurun secara signifikan. Namun El Niño kali ini juga turut memperpanjang cuaca panas dan kering di Indonesia.

El Niño merupakan fenomena peningkatan suhu permukaan laut di bagian tengah Samudera Pasifik yang tentunya mempengaruhi pola cuaca di Indonesia.

Meningkatnya suhu permukaan laut menyebabkan tingginya tekanan udara di perairan sekitar Indonesia sehingga mendorong angin bergerak keluar. Pergerakan udara keluar ini mengganggu pola udara lembab yang biasa, yang penting untuk pembentukan awan.

Dampak El Niño

El Niño tahun 2015 menyebabkan kebakaran hutan yang membakar sekitar 3 juta hektar hutan dan lahan gambut di pantai timur Sumatera dan Kalimantan Tengah. Dipicu oleh anomali suhu laut yang memecahkan rekor sebesar 3 derajat Celcius di wilayah indeks El Niño 3.4, bencana tersebut menyebabkan kerugian ekonomi langsung sekitar Rp 220 triliun (USD 14,7 miliar), dan mengeluarkan 11,3 teragram karbon dioksida per hari selama berbulan-bulan. pada bulan September dan Oktober 2015. Angka ini lebih tinggi dibandingkan gabungan emisi seluruh 28 negara Uni Eropa, yaitu sebesar 8,9 teragram per hari pada periode yang sama. Kerugian finansial dan ekologi akibat emisi ini masih belum dapat dihitung.

Delapan tahun kemudian, kita harus sangat waspada terhadap El Niño tahun ini, karena catatan jangka panjang menunjukkan peristiwa ekstrem seperti itu terjadi secara berkala dalam rentang waktu sekitar satu dekade.

Upaya Mitigasi yang dilakukan Pemerintah Indonesia

Perubahan iklim telah menjadi salah satu fokus utama Presiden Joko Widodo dan pemerintah Indonesia. Melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menggencarkan upaya mitigasi dampak El Niño. Hal ini mencakup inisiatif seperti membangun bendungan, waduk, dan sumur bor.

“Negara-negara dan organisasi internasional bahkan berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan dinitrogen oksida (N2O) yang merupakan penyebab utama pemanasan global. Upaya tersebut antara lain mengurangi bahan bakar fosil, meningkatkan efisiensi energi, dan meningkatkan penggunaan sumber energi terbarukan,” jelas dosen Meteorologi dan Klimatologi tersebut.

Namun, untuk mengatasi permasalahan kompleks ini memerlukan kolaborasi dan peningkatan kesadaran masyarakat di berbagai sektor.

Selama peristiwa El Niño, sejumlah besar dana telah – dan akan kembali – dikeluarkan untuk pemadaman kebakaran ketika kebakaran terjadi. Pengeluaran pemerintah Indonesia baru-baru ini untuk peralatan, sumber daya dan koordinasi bagi 11.000 sukarelawan pemadam kebakaran merupakan upaya yang patut dipuji untuk mencapai tujuan ini.

Opini dan kesadaran publik dapat menjadi semacam termometer yang memperingatkan kita untuk bersiap. Dari sudut pandang lingkungan, panas mungkin merupakan pertanda buruk: kekeringan dan kebakaran hutan mungkin akan segera terjadi. Pada awal bulan Juli, lebih dari separuh wilayah Indonesia telah memasuki kondisi ‘musim kemarau’ – jauh lebih awal dari biasanya – sehingga memicu kekhawatiran akan terulangnya kejadian bencana pada tahun 2015.

Ketidakpastian ini menunjukkan bahwa hanya mengandalkan prediksi El Niño saja tidak cukup – kita juga perlu meningkatkan dan mengintegrasikan pengetahuan kita tentang fenomena IOD (Indian Ocean Dipole) yang terjadi di ujung lain kepulauan Indonesia. Perpindahan uap air antara Australia dan Samudera Hindia juga harus diperhatikan