Peresmian transceiver station dari Satelit Satria1

8 Juni 2023 lalu, Dari SpaceX Cape Canaveral, Air Force Station, Florida, Amerika Serikat, SATRIA-1 meluncur ke angkasa

Satelit lepas landas menggunakan roket Falcon 9 milik Space X sekitar 17 menit lebih lambat dari yang direncanakan. Indonesia awalnya berencana meluncurkan satelit ke orbit pada Minggu pukul 18.04 waktu setempat atau Senin pukul 05.04 waktu Jakarta.

Satelit Satria-1 merupakan satelit modern yang menggunakan tenaga penggerak listrik. Satelit tersebut akan diluncurkan dari lokasi tersebut menggunakan empat roket kecil berbahan bakar elektronik, plasma dari zinon . Peluncurannya diperkirakan memakan waktu hingga 145 hari.

Satelit multifungsi

Satelit tersebut diciptakan oleh perusahaan Perancis Thales Alenia Space pada tahun 2020. Salah satu teknologi yang digunakan satelit ini adalah Very High Throughput Satellite (VHTS), dengan kapasitas terbesar di Asia, mencapai 150 gigabytes per second (GBPS) dan menggunakan teknologi canggih. Frekuensi Ka-Band.

Ukuran satelit SATRIA-1 luar biasa! Satelit ini tingginya 6,5 meter dan berbobot 4,5 ton! Meskipun demikian, satelit tersebut diperkirakan akan beroperasi setidaknya selama 15 tahun setelah diluncurkan ke orbit.

Nilai proyeknya mencapai US$540 juta atau sekitar Rp8 triliun. Pengerjaan proyek ini dilakukan melalui skema Government-to-Business (G2B) antara Kementerian Komunikasi dan Informatika dan PT Satelit Nusantara Tiga .

“Kami perkirakan total biayanya US$450 juta, namun ada cost overrun sebesar US$9 juta sehingga naik menjadi US$540 juta,” kata Direktur Utama Satelit Nusantara Tiga Adi Rahman Adiwoso dalam konferensi pers di Media Center Kementerian Komunikasi. , Selasa, 13 Juni. Biaya keseluruhan, kata dia, meliputi biaya satelit, roket, stasiun bumi, dan lain-lain.

Upaya pemerintah memperkuat jaringan internet

Satelit SATRIA-1 sangat penting dalam meningkatkan jaringan internet dan layanan digital Indonesia, khususnya di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Satelit ini rencananya mencakup sekitar 150.000 titik di seluruh Indonesia dengan rincian 54.400 titik di Sumatera, 19.300 titik di Kalimantan, 23.900 titik di Sulawesi, 18.500 titik di Papua dan Maluku, 13.500 titik di Bali dan Nusa Tenggara, serta 19.400 titik di Pulau Jawa.

Seluruh titik tersebut akan fokus pada sektor pelayanan publik yang esensial, seperti 93.400 titik akan diperuntukkan bagi sekolah, 3.700 titik untuk layanan kesehatan, 3.900 titik untuk sektor keamanan, dan 47.900 titik untuk kantor wilayah.

Akses internet yang lebih baik diharapkan dapat mendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah, menyediakan data kesehatan di puskesmas, memperkuat pengawasan keamanan oleh polisi dan militer, serta meningkatkan pelayanan pemerintah di kantor-kantor daerah.

Pada 28 Desember mendatang, Presiden Joko Widodo rencananya akan meresmikan 4.988 base transceiver station (BTS) 4G yang telah selesai dibangun oleh Bakti Kemenkominfo.

Peresmian proyek BTS 4G akan dilakukan serentak di seluruh Indonesia yang dipusatkan di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara ( Sulut ).

Selain itu, Pak Jokowi juga akan meresmikan pengoperasian stasiun bumi satelit Republik Indonesia (Satria) 1 yang berlokasi di Desa Matungkas , Kecamatan Dimembe , Minahasa Utara , Sulawesi Utara.

“Pembangunan BTS 4G merupakan upaya pemerintah untuk mempercepat pemerataan konektivitas digital kepada masyarakat tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi.

“Ini merupakan upaya pemerintah untuk pemerataan pembangunan dan ekonomi digital yang inklusif, dengan menyediakan internet di seluruh pelosok tanah air,”